AI adalah teknologi kecerdasan buatan manusia. Sedangkan, AI Art atau Artificial Intelligence merupakan suatu teknologi yang menggunakan data dan algoritma yang telah diprogram sehingga menghasilkan sebuah karya seni otomatis berbentuk gambar. Walaupun ini adalah bentuk dari kemajuan teknologi, tentunya keberadaan AI Art ini menuai kontraversi dari kalangan artist atau illustrator karena merasa jasanya telah terganti oleh AI dan merasa bahwa kerja keras mereka selama ini telah sia-sia.

Meski begitu, ada juga yang tidak keberatan dengan keberadaan AI Art ini, beberapa artist mengatakan bawa AI Art dapat membantu mereka mencari referensi yang mereka inginkan, dan membantu mereka untuk meningkat kualitas gambar mereka. Dengan AI Art, mereka dapat menuangkan ide-idenya hanya dengan memasukkan perintah ke dalam sebuah teks lalu menjadi sebuah gambar. Bukankah itu luar biasa? Ini menunjukkan bahwa teknologi semakin hari semakin berkembang pesat.

AI mempunyai kemampuan deep learning sehingga setiap perintah baru akan dipoles sendiri hingga mendekati sempurna dari waktu ke waktu. Pada akhirnya, sistem AI ini dapat memudahkan segalanya dan menjadi lebih praktis karena gambarnya sudah sekelas pro artist dan AI bekerja dengan singkat tanpa menunggu waktu berjam-jam untuk mengerjakannya. Keberadaan AI sangat membantu orang-orang untuk menjadikan fantasi mereka menjadi kenyataan. AI adalah sarana untuk para artist dan dapat dimanfaatkan keberadaannya.

Tidak seperti artist yang memiliki pro dan kontra, orang biasa atau khalayak umum malah sangat menerima keberadaan AI Art ini karena mereka merasa menemukan sesuatu yang baru atau menarik, contohnya seperti di applikasi tiktok, ada filter yang dapat mengubah wajah mereka menjadi anime dan mereka merasa itu sangat keren, bahkan filternya sempat viral di tiktok. 

Namun, tetap saja itu adalah ancaman bagi para artist karena makin kesini AI Art semakin bagus, dari membuat muka yang aneh, jari yang berantakan dan ada juga AI yang tidak bisa membuat jari, sekarang berubah menjadi sebuah gambar yang perfect. Ini benar-benar merupakan ancaman yang sangat menakutkan dan mimpi buruk bagi para artist. Dengan kesempurnaannya itu, AI secara langsung mengambil dan menendang para artist dari pekerjaannya. Bahkan, artist yang mengandalkan hasil dari komisi kekurangan penghasilan karena apa yang mereka hadapi adalah AI yang mampu menciptakan segalanya.

Beberapa artist juga mengatakan bahwa AI adalah pencuri. AI tidak mempunyai karya yang original, karena design aslinya adalah milik para artist, AI mencuri artstyle, mencuri database, dan mengembangkannya tanpa seizing mereka (artist). AI hanya menjiplak karya, karena AI adalah gabungan dari beberapa artwork yang di source via network, tentunya ini melanggar hak cipta. Jika keberadaan AI ini tidak menjadi masalah, lalu kenapa banyak artist yang merasa dirugikan?

Artist sejak awal tidak menentang kehadiran AI atau yang kita sebut sebagai teknologi. Hanya saja yang ditentang adalah penggunaan art tanpa izin yang diambil sebagai sample untuk illustrasi AI yang bahkan lebih parah dikomersilkan, tentu saja para artist menentang hal itu. 

Namun, terlepas dari hal itu, AI adalah AI, dan dibutuhkan manusia untuk mengoperasi program itu, kita, manusia, tak mungkin kalah dari teknologi yang merupakan buatan manusia itu sendiri, kita lebih hebat dari AI karena kita mampu menciptakan AI. Bahkan, tanpa prompt dengan keyword atau ketikan, AI tidak dapat dijalankan karena yang menjalankan AI adalah manusia itu sendiri.

Keberadaan AI tidak jauh untuk dikatakan bahwa AI akan menggantikan para artist karena pada dasarnya AI adalah software yang diajarka tergantung AI yang dibuat. Keberadaan AI ini mungkin dapat dijadikan motivasi untuk para artist yang tidak mudah putus asa untuk berkembang lebih baik dari sebelumnya. Kita tidak boleh kalah dari AI. Hasil seni tangan artist adalah yang lebih tepat dan lebih halus seninya karena mengandung banyak makna dan kreativitas yang tertuang didalamnya.