Latar Belakang

Saat perusahaan menggunakan inovasi desain, perusahaan dapat berjuang untuk mencapai nilai penuh dari desain yang berpusat pada manusia. Interaksi tim desain dengan pelanggan seringkali terbatas hanya pada penelitian awal dan fase evaluasi akhir dari proses desain, sementara pekerjaan di antaranya saat ide dihasilkan diserahkan kepada tim internal sendiri. Jika demikian, perusahaan akan kehilangan kesempatan untuk menemukan beberapa solusi yang berharga yang berpusat pada pelanggan.

Asal Muasal dari Desain Partisipatif

Desain partisipatif adalah sebuah pendekatan untuk merancang produk. Pendekatan ini dapat dieksplorasi di berbagai bidang, seperti desain perangkat lunak, desain perkotaan, desain grafis, dan bahkan bidang kesehatan. Disebut Desain Partisipatif karena melibatkan partisipasi aktif beberapa orang (yaitu peneliti, pengguna, desainer, mitra, masyarakat, karyawan, dan pemangku kepentingan secara keseluruhan) dalam proses desain suatu produk.

Tradisi inkuiri kooperatif Skandinavia adalah yang pertama memperkenalkan Desain Partisipatif, yang awalnya disebut desain kooperatif. Saat ini, desain partisipatif juga disebut sebagai co-creation atau co-design. Pada tahun 1970-an, pendekatan ini mulai dieksplorasi dalam proyek-proyek yang mempertimbangkan penerapan aplikasi komputer di tempat kerja. Singkatnya, strategi desain partisipatif bertujuan untuk memahami bagaimana pekerja dapat memperoleh manfaat dari inovasi IT yang dimaksudkan untuk meningkatkan lingkungan kerja.

Pro dan Kontra Implementasi Desain Partisipatif

Desain partisipatif memerlukan proses demokratis untuk merancang produk (atau sistem) yang melibatkan pengguna dan pemangku kepentingan lainnya. Argumen utama di balik teori ini adalah bahwa pengguna harus dapat berpartisipasi dalam desain produk yang akan mereka gunakan, yang sangat masuk akal. Namun, tidak sesederhana itu, mengingat pengguna biasanya bukan ahli dalam penggunaan alat seperti itu dan jutaan kepribadian yang berbeda mungkin akan menggunakan produk tersebut.

Namun, penting untuk diingat bahwa desain partisipatif bukanlah proses yang ketat dan diperlukan untuk menerapkan dan mengadaptasinya sesuai dengan proses desain yang diikuti oleh setiap desainer atau tim. Definisi utama dari pendekatan ini menyiratkan bahwa semua pemangku kepentingan terlibat dalam proses desain produk. Namun, jika tidak dilakukan dengan baik, hal ini dapat menyebabkan kekacauan dan kebingungan yang besar.

Manfaat dari Desain Partisipatif

  1. Solusi Inovatif

Melibatkan orang baru dan eksternal dalam proses desain adalah cara yang bagus untuk menghadirkan perspektif baru. Bahkan, hal itu dapat mengungkap hambatan yang tidak terlihat jelas bagi anggota tim lainnya dan berkontribusi dengan ide-ide segar yang kreatif dan inovatif.

  1. Mengurangi Resiko Kegagalan

Memiliki pemangku kepentingan dan pengguna yang berpartisipasi dalam proses desain menyiratkan bahwa lebih banyak orang akan memeriksa setiap langkah dan mengungkap kemungkinan kesalahan di setiap langkah proses desain. Konsekuensinya, hasil produk cenderung mengalami modifikasi yang signifikan, menghemat waktu dan biaya, dan meningkatkan probabilitas keberhasilan.

  1. Keterikatan

Desain partisipatif memberikan kesempatan bagi pengguna dan pemangku kepentingan untuk merasa bahwa mereka adalah bagian dari proses desain. Karena mereka terintegrasi dalam proses, mereka memiliki rasa kepemilikan yang lebih tinggi, yang meningkatkan keterlibatan dan kemungkinan untuk merekomendasikan. Dengan kata lain, ketika pengguna dan pemangku kepentingan merasa bahwa mereka dapat berkontribusi pada proyek, mereka lebih cenderung terikat pada produk dan berinvestasi dalam keberhasilannya.

Kesimpulan

Desain partisipatif adalah strategi yang sangat baik untuk bertemu dengan pengguna dan membawa mereka ke proses desain suatu produk. Hal ini memungkinkan para desainer dan peneliti untuk memahami bagaimana memenuhi kebutuhan dan keinginan pengguna sekaligus menyediakan ruang untuk memastikan ide mereka didengar dan dipraktikkan.