Evolusi Bahasa Remaja: Dari Dulu Sampai Sekarang, Kok Beda?
Evolusi Bahasa Remaja: Dari Dulu Sampai Sekarang, Kok Beda?

Halo kawan… Pernahkah kalian menyadari bahwa bahasa pergaulan yang digunakan oleh masyarakat Indonesia terutama di kalangan remaja mengalami perubahan dari tahun ke tahun atau berevolusi? Contohnya di tahun 2000-an ada kata “Bokis”di tahun 2010-an ada “EGP”, dan saat ini di tahun 2025 sedang merajalela kata “Sigma”. Bahasa remaja atau bahasa gaul sendiri adalah ragam bahasa yang tidak termasuk bahasa baku dan digunakan oleh generasi muda atau remaja yang mulai digunakan pada tahun 1980-an hingga abad ke-21. (Kridalaksana, 2009:25).

Fenomena berubahnya bahasa yang gemar digunakan oleh remaja dari tahun ke tahun ini tentu saja menarik untuk kita bahas seluk-beluknya. Mengapa bahasa remaja terus bertransformasi? Faktor-faktor apa saja yang mendorong perubahan ini?. Artikel ini akan mengupas tuntas evolusi bahasa remaja di Indonesia. Oleh karena itu, mari kita telaah bersama, mengapa bahasa remaja “kok beda” dari dulu hingga sekarang.

Sejalan dengan anak remaja yang pastinya berubah-ubah setiap tahun dan generasi, bahasa remajapun demikian. Bahasa remaja juga turut mengalami perubahan. Di dalam artikel ini penulis akan lebih fokus membahas tentang perubahan bahasa remaja di era 2000-an hingga saat ini, tahun 2025. Ayo simak contoh-contohnya.

  1. Bahasa Remaja di Tahun 2000-an

Sekitar tahun 2000-an marak atau populer digunakan bahasa, seperti “Cus” yang artinya “Ayo”, “Rempong” berarti “Repot”, dan “Segambreng” berarti “Banyak. Beberapa kata mungkin terdengar lucu atau aneh bagi generasi sekarang karena saat ini kurang populer.

  1. Bahasa Remaja di Tahun 2010-an

Pada tahun 2010-an bahasa gaul atau bahasa remaja yang marak digunakan adalah bahasa singkatan, misalnya “Baper” atau “Bawa Perasaan”, “Gaje” atau “Gak Jelas”, dan “Mager” atau “Malas Gerak”. Beberapa kosa kata gaul tahun 2010-an masih sering digunakan pada saat ini

  1. Bahasa Remaja di Tahun 2025

Bahasa remaja atau bahasa gaul di tahun 2025 ini biasanya disebut dengan bahasa gen alpha. Generasi alpha sendiri merupakan generasi yang lahir di antara 2010-2024 dan lahir dan hidup di era perubahan yang cepat (Hale, 2022:240). Contoh katanya, “Bestie” yang artinya “Teman”, “Rizz” artinya “Berkarisma”, dan “Delulu” atau “DPada dasarnya bahasa itu dinamis karena manusia juga dinamis, menurut Chaer (2014:53) bahasa memiliki keterikatan dengan manusia dan manusia sendiri dalam kehidupannya tidak tetap atau berubah-ubah sehingga bahasa menjadi mengikuti hal tersebut. Begitupun dengan bahasa remaja ini. Berikut faktor lebih rincinya.

  1. Pengaruh Media Sosial

Media sosial yang merupakan tempat untuk berinteraksi dengan masyarakat dalam negeri dan luar negeri dapat memberikan pengaruh yang signifikan  dalam   perkembangan   bahasa  terutama yang digunakan dalam media sosial (Jannah, 2023, dalam Bangun, dkk., 2024:4). Sejalan dengan hal tersebut perubahan bahasa remaja juga terpengaruh akan adanya media sosial ini.

  1. Masuknya Budaya Baru

Poedjoseodarmo (2008, dalam Haryono, 2011:6) menyebutkan jika masuknya dan pertukaran seni dan budaya dapat menyebabkan perubahan bahasa. Selaras dengan hal itu, bahasa remaja juga turut berubah terlebih saat di era globalisasi ini yang membuat budaya-budaya luar negeri semakin menjamur di Indonesia sehingga muncullah istilah-istilah baru.

  1. Dinamika Lingkungan Pergaulan

Bahasa remaja yang umumnya digunakan pada lingkungan pertemanan, maka kelompok teman memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap perkembangan bahasa remaja. Bahasa gaul dan tren bahasa sering kali menyebar dalam lingkaran pertemanan.

Istilah-istilah baru yang lahir di kalangan remaja, singkatan-singkatan yang hanya dipahami oleh kelompok usia tertentu, dan perubahan makna kata yang sudah ada dapat menciptakan kebingungan bagi generasi yang lebih tua. Tidak jarang juga generasi yang lebih tua melihat bahasa remaja sebagai bentuk “kehancuran” dalam bahasa Indonesia. Di sisi lain, generasi muda memandang bahasa sebagai bentuk ekspresi diri yang kreatif, efisien dan berbasis waktu. Mereka merasa bahwa bahasa yang ketat dan formal tidak relevan dalam hal gaya hidup dan interaksi dinamis mereka.

Namun, penting untuk menekankan bahwa perubahan bahasa adalah fenomena yang rasional dan melekat dalam pembangunan sosial. Setiap generasi memiliki pengalaman yang berbeda, pengaruh budaya, dan keterampilan, dan tentu saja membentuk cara mereka berkomunikasi. Bahasa remaja mencerminkan dunia yang unik dengan semua dinamika dan inovasi.

Fenomena linguistik muda, disertai dengan semua keunikan dan perbedaannya dengan generasi sebelumnya, adalah salah satu bukti nyata dari vitalitas dan perkembangan bahasa itu sendiri. Ketika mencoba memahami dan mengevaluasi dinamika yang sedang berlangsung, mengapa tidak menjadi lebih pintar daripada melihatnya sebagai penyimpangan atau ancaman?

Generasi yang lebih tua dapat belajar tentang tren dan inovasi bahasa yang berkembang menjadi orang yang lebih muda, sementara generasi yang lebih muda dapat memahami akar dan kekayaan bahasa yang diwariskan. Memahami saling pengertian ini tidak hanya memfasilitasi komunikasi, tetapi juga memperkuat ikatan antargenerasi.

Belajar dan beradaptasi dengan perubahan dalam bahasa diperlukan. Ini tidak berarti bahwa kita perlu sepenuhnya membawa semua istilah baru yang muncul, kita juga tidak perlu memahami keterbukaan pikiran dan kemauan, konteks, dan tujuan dalam menggunakan berbagai bahasa. Oleh karena itu, kita dapat menghindari kesalahpahaman dan membangun jembatan komunikasi yang lebih efektif dengan generasi muda.

 

DAFTAR PUSTAKA

  • Bangun, M. A., Nasution, M. F. A., Sinaga, N. R., Sastra, S. F. D., & Khairani, W. (2024). Analisis pengaruh media sosial terhadap perkembangan bahasa Indonesia di era globalisasi. Jurnal Bahasa Daerah Indonesia, 1(3), 9-9.
  • Chaer, A. (2014). Linguistik Umum. Jakara: Rineka Cipta.
  • Hale, M. (2022). Generation Alpha. EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, 3(2), 240-245.
  • Haryono, A. (2011). Perubahan dan Perkembangan Bahasa: Tinjauan Historis dan Sosiolinguistik. Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana, 1-9.
  • Kridalaksana, H. (2009). Kamus Linguistik Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  • Wediasti, W., & Hiasa, F. (2025). Perbedaan Eksistensi Penggunaan Bahasa Indonesia antara Generasi Milenial dan Generasi Z. Jurnal Ilmiah KORPUS, 9(1), 27-39.