Berbicara tentang rumah tentu terlintas pikiran mengenai “Broken home”, ialah sebuah kalimat yang sudah tidak asing lagi di dengar. Jika boleh memilih, tentu saja tidak ada satu pun anak yang ingin lahir dari keluarga yang berantakan.
Terlahir dari keluarga yang tidak baik-baik saja mengajarkan kita tentang satu hal, yaitu bagaimana menjadi dewasa sebelum waktunya. Tak sedikit remaja diluar sana yang mengalami hal seperti ini. Ada sebagian yang diantara nya terpaksa mengubur keinginan dan mengahancurkan ekspetasi tentang keluarga yang bahagia.
Sebagian orang beranggapan bahwa rumah adalah tempat pulang terbaik, namun hal nya bagi seorang broken home rumah bukan lagi tempat yang nyaman, bukan juga tempat pemberi cinta dan kebahagiaan, melainkan rumah adalah tempat dimana semua air mata berasal.
Salah satu qoetes yang kurang lebih begini “Selama kamu belum bisa maafin diri kamu sendiri kamu tidak akan bisa memaafkan orang lain”, seolah kalimat tersebut memberitahu bahwa ada harapan yang besar mengenai kehidupan yang bahagia. Namun ternyata salah, itulah takdir yang semestinya harus dijalani.
Seiring berjalan nya waktu, kalau isi rumahnya belum benar, tentu saja banyak anak yang pasti bakal melempar harapannya ke tempat lain. Tempat yang wujudnya bisa apa aja. Bisa teman,pacar,sahabat,atau tempat tempat lain yang bentuknya menyerupai ‘rumah’.
Hampir sering kita temui banyak sekali anak diluar sana yang sangat bergantung sama pasangan nya , karena bagi anak broken home pasangannya adalah “ RUMAH.”terbaik. Untuk semua anak broken home diluar sana, “ terimakasih sudah bertahan, you did great. I’m proud of you”.