Sumber : https://siapnikah.org/7-alasan-membangun-sosial-emosional-pada-anak/
Sumber : https://siapnikah.org/7-alasan-membangun-sosial-emosional-pada-anak/

1.Perkembangan Konsep diri

Konsep diri adalah suatu pandangan dan evaluasi individu terhadap dirinya sendiri dan mencakup beberapa aspek seperti aspek fisik, psikologis, sosial, dan emosional. Proses ini melibatkan pembentukan citra diri individu yang dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal. Menurut Erik Erikson, perkembangan konsep diri terjadi melalui beberapa tahap utama yaitu Trust vs. Mistrust (Lahir–18 Bulan), Autonomy vs. Shame and Doubt (Usia 18 Bulan–3 Tahun), Initiative vs. Guilt (Usia 3–6 Tahun), Industry vs. Inferiority (Usia 6–12 Tahun), Identity vs. Role Confusion (Usia 12–18 Tahun), Intimacy vs. Isolation (Usia 18–40 Tahun), Generativity vs. Stagnation (Usia 40–65 Tahun), Integrity vs. Despair (Usia >65 Tahun).

Jenis-jenis dan aspek konsep diri :

  • Diri Fisik, Pandangan dari individu terhadap kondisi fisiknya, termasuk penampilan dan kesehatan.
  • Diri Sosial, Bagaimana orang tersebut memandang perannya dalam interaksi sosial dan hubungan dengan orang lain.
  • Diri Emosional, Perasaan seseorang terhadap dirinya sendiri, seperti harga diri dan kepuasan hidup

Fungsi konsep diri :

  • Membangun hubungan sosial yang baik Citra diri yang baik dapat mempengaruhi hubungan dan lingkungan sosial seseorang.
  • Menerima kelebihan dan kekurangan diri Konsep diri yang baik
  • Mengarahkan Perilaku
  • Mengembangkan Kepribadian
  • Memotivasi Tingkah Laku
  • Mengintegrasikan Kepribadian

Peran Guru dalam Membentuk Konsep Diri

  • Lingkungan Belajar yang Mendukung
  • Pendekatan Individual
  • Pengembangan Keterampilan Sosial

2. Perkembangan Emosi

Emosi adalah reaksi psikologis dan fisik terhadap stimulus tertentu. Emosi bisa berupa perasaan subjektif seperti kegembiraan, kesedihan, kemarahan, ketakutan, cinta, dan rasa bersalah. Emosi juga bisa mengakibatkan respons fisik seperti peningkatan denyut jantung dan pernapasan yang cepat.  Menurut Daniel Goleman (2009: 411), emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi biasanya menggambarkan perasaan manusia saat menghadapi situasi yang berbeda. Dalam pandangan Piaget, anak-anak belajar memahami dan mengelola emosi mereka melalui pengalaman langsung, interaksi sosial, dan pengembangan keterampilan berpikir abstrak.

Jenis-jenis emosi

  • Emosi Bahagia, emosi ini ditandai dengan perasaan senang, ceria, gembira, kepuasan, dan sejahtera. orang yang sulit menemukan emosi bahagia dinilai mudah untuk stres dan depresi, yang bisa berujung pada imunitas yang rendah.
  • Emosi Sedih, emosi ini ditandai dengan perasaan tidak bersemangat, tidak tertarik dalam mengerjakan hal apa pun, mood yang murung, kekecewaan, hingga perasaan berduka dan bisa terjadi akibat rendahnya kadar neurotransmitter dopamin dan serotonin. Dalam waktu yang lama, hal tersebut bisa menyebabkan depresi, kelelahan, kurang berenergi dan lain-lain.
  • Emosi Takut, emosi ini umumnya muncul dan terjadilah respons yang disebut melawan atau lari. Emosi ini juga bisa menyebabkan dampak lain pada tubuh, seperti ketegangan otot, mulut kering, energi berlebih pada tubuh, dan lainnya.
  • Emosi Jijik, emosi ini dapat bersumber dari banyak hal, termasuk rasa, pemandangan, atau bau yang tidak menyenangkan.
  • Emosi Marah, emosi ini bisa berkaitan dengan respons fight or flight.
  • Emosi Terkejut, emosi ini saat menghadapi momen atau hal yang tidak disangka

Menurut Daajali ( 2007: 38) menjelaskan bahwa timbulnya emosi dikarenakan diantaranya :

  • Rangsangan yang Menimbulkan Emosi
    Rangsangan ini muncul dari dorongan, keinginan atau minat yang terhalang. Hal ini disebabkan karena kurangnya kemampuan individu untuk memenuhi kebutuhannya.
  • Perubahan Fisik dan Fisiologis
    Emosi ini akan menghasilkan berbagai perubahan yang mendalam (visceral changes) dan akan mempengaruhi urat-urat kerangka di dalam tubuh.

3. Perkembangan Moral, Nilai Dan Sikap

  • Moral adalah suatu ajaran tentang baik buruknya perbuatan, sikap, kewajiban, dan lain sebagainya yang sesuai standar perilaku yang berlaku dalam masyarakat, dan memungkinkan orang untuk hidup secara kooperatif.
  • Nilai merupakan dasar pertimbangan bagi individu untuk melakukan sesuatu.
  • Sikap adalah respons terhadap suatu objek sebagai perwujudan dari sistem nilai dan moral.
  • Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Nilai, Moral Dan Sikap
    • Lingkungan Sosial
    • Kemampuan Kognitif
    • Keragaman Individual
    • Pengalaman Awal
    • Komunikasi dan Partisipasi
    • Pendidikan dan Kurikulum

Perbedaan individu dalam perkembangan moral, nilai, dan sikap sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk karakteristik pribadi, lingkungan sosial, dan pengalaman hidup. Contoh faktor genetik dan lingkungan keluarga dapat membentuk sikap dasar seseorang terhadap perilaku etis dan norma sosial. Selain itu, pengalaman pendidikan juga berperan penting dalam membentuk sikap dan nilai, di mana interaksi dengan guru dan teman sebaya dapat memperkuat atau mengubah pandangan individu.

 

4. Perkembangan Kreativitas

Kreativitas menurut Santrock (2002) yaitu kemampuan untuk memikirkan sesuatu dengan cara-cara yang baru dan tidak biasa serta melahirkan suatu solusi yang unik terhadap masalah-masalah yang dihadapi. Atau kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru baik berupa gagasan maupun karya nyata yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya. Misalnya adalah Kreativitas melalui Imajinasi: Anak dapat menggunakan benda-benda sederhana misalnya sapu untuk bermain seolah-olah itu adalah kuda, atau kursi yang dijadikan sebagai mobil. Aktivitas ini membantu anak mengembangkan sebuah imajinasi mereka dan menciptakan ide-ide baru tanpa batasan realitas sehari-hari. Kreativitas melalui Musik: Melibatkan anak dalam aktivitas musik, seperti menciptakan nada dengan benda di sekitar mereka atau bernyanyi, membantu mereka mengembangkan kemampuan berpikir kreatif serta menyeimbangkan aspek emosional dan intelektual.

Faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya Kreativitas

  • Lingkungan Sosial
    Lingkungan sosial di mana anak-anak tumbuh berperan penting dalam perkembangan kreativitas mereka. Lingkungan yang mendukung, memfasilitasi eksplorasi ide-ide baru, dan memberikan kesempatan untuk berekspresi secara bebas dapat mendorong kreativitas anak.
  • Dukungan Orang Tua
    Peran orang tua sangat penting dalam mengembangkan kreativitas anak-anak. Orang tua memberikan dukungan, pujian, dan dorongan yang dapat membuat anak merasa yakin dalam berkreasi.
  • Stimulasi dan Pengalaman
    Jenis stimulasi dan pengalaman yang dialami anak juga mempengaruhi perkembangan kreativitas mereka. Pengalaman membuat sesuatu, mengatasi masalah, dan menemukan solusi kreatif dapat membantu anak menjadi lebih kreatif.