Kota Dumai adalah Salah satu kota di Provinsi Riau yang berhadapan langsung dengan laut. Kota Dumai merupakan kota yang strategis yang ada dipesisir Utara pulau Sumatra, sehingga mempermudah akses untuk pergi ke negara tetangga seperti Malaysia. Sehingga secara ekonomis menjadi peluang untuk menetap dan beraktivitas dikota tersebut mengingat mudahnya akses kenegara tetangga.

Masalah muncul ketika tingginya aktivitas masyarakat dan pembangunan berdampak terhadap persoalan lingkungan, terutama yang berkaitan dengan fenomena alam yaitu pasang surut air laut. Pasang air laut memang tidak bisa dihindari, menyebabkan banjir meski tidak turun hujan di Kota Dumai. Namun kini persoalan itu semakin besar, dimana ketika saat terjadinya pasang surut, maka banjir yang dulunya hanya berada di sekitar daerah muara sungai dan sekitar bibir pantai, kini meluas hingga ke sebagian besar wilayah kota Dumai.

Hasil pengamatan lapangan membuktikan saat terjadi pasang air laut, daerah setengah kota mulai dari kawasan muara hingga ke daerah bagian tengah kota sudah tenggelam. Jika dibandingkan dengan masa lalu (dalam hitungan dua dekade), daerah Kota Dumai yang mengalami banjir akibat pasang air laut mengalami peningkatan, artinya sebagian daerah yang terkena dampak banjir akibat pasang ini kini meluas hingga ke tengah kota. Jika persoalan ini terjadi terus menerus maka akan membuat Kota Dumai suatu hari nanti akan “tenggelam” ketika pasang air laut terjadi. Hitungan waktu ini tergantung dengan laju pertumbuhan pembangunan dan peningkatan urbanisasi di Kota Dumai.

Persoalan ini juga dihadapi oleh kota-kota di belahan dunia lain, seperti Kota Chiba di Jepang, Amsterdam di Belanda, Goaldcoast di Australia dan lain-lain. Namun kota-kota di negara maju tersebut tidak pernah mengalami banjir saat pasang laut terjadi. Hal ini juga tentunya dipengaruhi oleh tata kelola pemukiman yang baik di kota ini.   Permasalahan yang dihadapi oleh Kota Dumai tidak terlepas dari tingginya angka urbanisasi yang terjadi di kota ini, data pusat statistik menunjukkan terjadinya perubahan yang signifikan terhadap lajunya pertumbuhan penduduk di kota ini yang sebagian besarnya menumpuk di area pusat kota. Dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 3,51 persen (data dari BPS Dumai), menunjukkan bahwa kota ini sedang berbenah menjadi kota besar.Tingginya urbanisasi Kota Dumai tentu berbanding lurus dengan pembangunan, saat ini di Kota Dumai pembangunan sebagai faktor pendukung aktivitas ekonomi tidak bisa terelakkan. Namun, tingginya pembangunan ini turut serta membawa permasalahan, contoh yang paling nyata adalah hilangnya ruang terbuka yang berfungsi sebagai resapan air saat terjadinya peningkatan volume air tersebut.

Tingginya angka pembangunan memberikan persoalan baru untuk memikirkan bagaimana “melarikan” diri dari air pasang. Saat ini memang Pemko Dumai sedang giat membuat drainase, namun drainase ini masih belum mampu menampung kelebihan debit air saat terjadinya pasang maupun hujan. Kondisi drainase yang belum memadai ini diperburuk dengan rendahnya kesadaran masyarakat yang masih belum menjaga kebersihan, banyak sampah yang menumpuk pada drainase sehingga menyebabkan proses aliran air jadi terhambat.

Solusinya mungkin dengan membuat pintu air yang tentunya harus lebih tinggi dari saat pasang maksimal. Saat pasang terjadi, pintu-pintu air yang terdapat pada aliran air yang mengarah ke laut bisa ditutup sehingga pada saat pasang, air tidak terlalu banyak masuk ke daratan atau mungkin dengan cara merekayasa aliran air dengan membuat kanal di beberapa titik dan dikumpulkan dalam satu area tangkapan Ini bisa dikembangkan ke arah lain, misalnya menjadikan danau buatan sebagai salah satu alternatif hiburan wisata bagi warga di Dumai. sekian terima kasih.