Dr(Cand) Muhalida Zia Ibhar, S.Pd., M.Ed
Dr(Cand) Muhalida Zia Ibhar, S.Pd., M.Ed

Di banyak perguruan tinggi, program English for Occupational Purposes (EOP) kerap diposisikan sebagai pelengkap: Matakuliah bahasa Inggris yang ditambahkan untuk memperkuat kesiapan kerja mahasiswa. Padahal, EOP semestinya tidak berhenti pada latihan tata bahasa, penguasaan kosakata, atau simulasi wawancara yang bersifat generik. Nilai utamanya terletak pada kemampuan menghubungkan pembelajaran bahasa dengan praktik profesional yang benar-benar akan dihadapi mahasiswa.

Pendahuluan dan Konteks

Mahasiswa memasuki dunia kerja dengan latar disiplin, aspirasi, dan kebutuhan komunikasi yang berbeda. Mahasiswa teknik mungkin perlu menjelaskan prosedur keselamatan, mahasiswa kesehatan berhadapan dengan komunikasi empatik, sedangkan mahasiswa bisnis dituntut menyusun presentasi, surel, dan negosiasi. Karena itu, EOP tidak dapat dirancang sebagai program seragam yang hanya mengganti contoh dalam buku ajar.

Relevansi menjadi kata kunci. Program yang relevan mengidentifikasi situasi komunikasi yang dihadapi mahasiswa, memetakan tuntutan profesi, lalu menerjemahkannya ke dalam tujuan belajar yang terukur. Dengan pendekatan ini, EOP bergerak dari sekadar “program bahasa” menjadi jembatan antara ruang kelas, identitas profesional, dan tuntutan dunia kerja.


Analisis Kritis Masalah

Persoalan utama EOP bukan selalu terletak pada kompetensi pengajar, melainkan pada desain program yang kurang berangkat dari kebutuhan nyata. Kurikulum sering disusun berdasarkan asumsi umum tentang kemampuan bahasa mahasiswa, bukan melalui analisis kebutuhan yang melibatkan mahasiswa, dosen bidang studi, alumni, dan pengguna lulusan. Akibatnya, materi terasa jauh dari konteks akademik maupun profesional.

Masalah lain adalah kecenderungan mengukur keberhasilan melalui kehadiran, penyelesaian modul, atau nilai ujian. Indikator tersebut penting secara administratif, tetapi belum menunjukkan apakah mahasiswa mampu menulis laporan, mempresentasikan gagasan, menangani percakapan sulit, atau berkolaborasi lintas budaya. Klaim tentang peningkatan kesiapan kerja melalui EOP perlu dibuktikan dengan pelacakan capaian lulusan dan evaluasi yang sahih .


Tawaran Solusi dan Rekomendasi Nyata

Pertama, institusi perlu melakukan analisis kebutuhan secara berkala. Survei dapat dilengkapi wawancara, observasi praktik kerja, dan kajian dokumen profesional. Kedua, tujuan pembelajaran harus dirumuskan dalam bentuk kinerja, misalnya “mampu menyusun surel profesional untuk menyampaikan rekomendasi” atau “mampu mempresentasikan temuan kepada audiens nonspesialis”.

Ketiga, pembelajaran perlu berbasis tugas autentik: simulasi rapat, proyek kolaboratif, studi kasus, presentasi poster, penulisan laporan, dan praktik umpan balik. Penilaian hendaknya menggunakan rubrik yang menimbang ketepatan bahasa sekaligus kejelasan pesan, ketepatan konteks, etika komunikasi, dan kemampuan bernegosiasi. Keempat, pengajar bahasa perlu bekerja bersama dosen bidang studi dan mitra industri agar konteks pembelajaran tidak artifisial.


Refleksi Penutup

EOP yang baik bukan program yang paling padat materi, melainkan yang paling mampu mengubah pengalaman belajar menjadi kapasitas bertindak. Mahasiswa tidak hanya membutuhkan bahasa Inggris yang benar, tetapi juga keberanian, kecermatan, dan kepekaan untuk menggunakannya dalam situasi nyata.


Program baru disebut berdampak ketika mahasiswa dapat membawa pembelajarannya keluar dari kelas—ke laboratorium, ruang kerja, komunitas, dan keputusan profesional yang kelak mereka ambil.

Dengan demikian, merancang EOP berarti merancang masa depan komunikasi profesional mahasiswa. Ukuran keberhasilannya bukan sekadar apa yang selesai diajarkan, melainkan apa yang sanggup dilakukan mahasiswa setelah program berakhir.


Daftar Pustaka

Nuraini, E. I., Rokhaniyah, H., & Al-Fikry, M. F. (2026). <b>Needs Analysis of English for Specific Purposes for Occupational Health and Safety Students in Higher Education</b>. Wanastra: Jurnal Bahasa dan Sastra. https://doi.org/10.31294/wanastra.v18i1.12169

Sizer, J. (2019). Textography as a needs analysis and research tool for English for Academic Purposes and learning development practitioners. Journal of Learning Development in Higher Education. https://doi.org/10.47408/jldhe.v0i15.554

Maclean, J. (1994). Professional interactions: Oral communication skills in science, technology, and medicine. English for Specific Purposes. https://doi.org/10.1016/0889-4906(94)90031-0

Leotta, P. C., & Dolidze, T. (2022). The Role of Needs Analysis in English for Academic Purposes in Higher Education. European Scientific Journal, ESJ. https://doi.org/10.19044/esj.2022.v18n5p8

Moussaoui, R. (2026). ENGLISH FOR SPECIFIC PURPOSES NEEDS ANALYSIS IN HIGHER EDUCATION: A CRITICAL REVIEW. European Journal of English Language Teaching. https://doi.org/10.46827/ejel.v11i4.6990

Xiaoqin, R., & Soekarno, M. (2026). Needs Analysis of English for Occupational Purposes Course for Preschool Major Students in a Chinese College. International Journal of Academic Research in Progressive Education and Development. https://doi.org/10.6007/ijarped/v15-i1/27479

Chemir, S., & Kitila, T. (2022). Learners’ needs analysis for English for academic purposes in ethiopian higher education institutions: The case of Wachemo University freshman students. Cogent Education. https://doi.org/10.1080/2331186x.2022.2026190

Jurkovič, V. (2022). Authentic routine ship-shore communication in the Northern Adriatic Sea area – A corpus analysis of discourse features. English for Specific Purposes. https://doi.org/10.1016/j.esp.2022.06.002