Pandemi Covid-19 telah merubah tatanan kehidupan kita semua, tak terkecuali dalam bidang pendidikan. Semua elemen pendidikan mau tidak mau harus menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi agar pembelajaran tetap terlaksana menggunakan metode baru. Tentu saja, hal ini menimbulkan pro dan kontra dari berbagai kalangan, khususnya para tenaga pengajar maupun siswa.

Metode pembelajaran jarak jauh atau yang kerap disebut PJJ, online learning, daring (dalam jaringan) bagi seluruh jenjang pendidikan menjadi salah satu cara untuk melaksanakan pendidikan di tengah pandemi yang melanda. Belajar di era pandemi tidak lagi dilakukan secara face to face dengan tenaga pengajar, melainkan melalui virtual menggunakan aplikasi Zoom, Google Meet, dan lainnya. Walaupun lebih praktis karena tidak perlu berpindah tempat,  fenomena belajar secara virtual ini dinilai tidak efektif dan efisien, bahkan menurunkan minat belajar siswa.

Semenjak pandemi Covid-19 merebak, dunia pendidikan terkena dampak yang sangat besar. Seolah terlena dengan pembelajaran berbasis online, banyak dari mereka yang tidak lagi serius dan kehilangan motivasi untuk mengikuti pembelajaran, bahkan setelah era pasca-pandemi. Fenomena siswa yang kehilangan minat belajar inilah yang disebut learning loss.

Menurut The Education and Development Forum (2020), learning loss adalah kondisi di mana peserta didik kehilangan pengetahuan dan keterampilan umum atau khusus. Siswa yang mengalami learning loss mengalami kemunduran akademik karena kondisi tertentu, seperti adanya kesenjangan yang berkepanjangan atau proses belajar yang tidak berlangsung optimal. Learning loss terjadi karena terbatasnya interaksi langsung antara peserta didik dan guru, terbatasnya komunikasi antar siswa, situasi pembelajaran yang kurang kondusif selama belajar daring, sulit fokus, hingga terbatasnya ruang diskusi secara langsung selama pembelajaran daring (Munawaroh & Nurmalasari, 2021). Dampaknya, siswa kesulitan untuk memahami pembelajaran, merasakan kecemasan, stres, hingga gejala depresi (Tang et.al., 2021).

Dampak learning loss ini semakin terlihat ketika memasuki era pasca pandemi, dimana siswa kesulitan untuk kembali beradaptasi dengan pembelajaran tatap muka dan memahami materi yang disampaikan.

Hal tersebut merupakan salah satu efek dari pembelajaran daring selama pandemi. Lalu, apa akibatnya jika learning loss ini terus terjadi?

Sebagai salah satu bagian dari peserta didik, penulis mengamati bagaimana dampak dari learning loss terhadap keefektifan belajar, hal ini menjadi salah satu faktor yang membuat kesulitan ketika pembelajaran berlangsung. Sulit berpikir kritis, hilang semangat belajar, serta sulit untuk bekerja sama dengan sesama siswa. Terlihat remeh, namun jika terus dibiarkan tanpa adanya perbaikan maka para siswa akan kesusahan menyelesaikan pendidikannya dengan baik. Ketika memasuki dunia karir, mereka tidak memiliki ilmu yang mampu diterapkan. Akhirnya, mereka sulit mendapatkan pekerjaan.

Apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki learning loss? Pada dasarnya, semua elemen dasar dalam pendidikan harus ikut serta dalam mengatasi learning loss yang terjadi pasca pandemi ini. Tenaga pendidik perlu berusaha lebih keras dalam proses pembelajaran agar dapat mengembalikan semangat dan kreatifitas siswa. Siswa yang menjadi fokus utama juga harus kembali sadar betapa pentingnya menuntut ilmu serta pengimplementasian ilmu tersebut untuk menghadapi kompetisi dalam pekerjaan dan karir yang semakin meningkat.