Kata parenting tentu sudah tidak asing lagi bagi kita, tapi terkadang kita tidak mengetahui apa arti parenting? Parenting secara harfiah adalah pola pengasuhan anak. Pola ini sangat berpengaruh pada pembentukan karakter anak dan bisa mengarahkan mereka ke arah yang positif maupun negatif. Ini semua tergantung dari nilai-nilai apa yang kita ajarkan dan tanamkan pada anak. Namun, tidak semua pola pengasuhan cocok, inilah mengapa mempelajari parenting itu sangat penting.

Para ahli psikolog anak telah melakukan penelitian-penelitian mengenai pola asuh orang tua. Penelitian menyebutkan bahwa ada hubungan antara pola asuh dan perilaku anak. Ada tiga jenis pola asuh anak yang dicetuskan oleh salah seorang psikologi, Diana Baumrind yang melakukan penelitiannya di taman kanak-kanak. Kemudian penelitian lebih lanjut dilakukan oleh Eleanor Maccoby dan Jhon yang juga psikolog. Ia menambahkan satu pola asuh dari tiga yang ditemukan Baumrind sebelumnya. Melansir dari Kontan.co.id dari tulisan Tiyas Septiana yang berjudul  “4 jenis Parenting style dan dampaknya pada buah hati, orang tua harus tau”.

Berikut beberapa tipe parenting yang berpengaruh pada karakter anak:

  1. Authoritarian Parenting
    Authoritarian Parenting atau dikenal juga pola asuh otoriter, pola asuh ini sudah banyak digunakan oleh para orang tua. Parenting style ini lebih fokus pada istilah, “orang tua selalu benar”. Orang tua menganggap anak harus menuruti aturan orang tua tanpa membantah. Tidak jarang orang tua tipe ini tidak mau mendengar pendapat anaknya. Hukuman biasa diterapkan dalam pola asuh otoriter. Dengan pola asuh ini orang tua beranggapan anak akan lebih mendisiplinkan diri, karena jika mereka melakukan kesalahan maka mereka akan mendapatkan hukuman.
    Namun, hasil dari pola asuh ini anak bisa saja tumbuh menjadi anak yang agresif dan gemar berbohong, karena mereka merasa tidak di beri hak dalam menentukan keinginannya sendiri.
  2. Authoritative parenting
    Pola asuh yang berwibawa atau authoritative parenting fokus membangun lingkungan yang positif untuk anak. Orang tua tetap memberi aturan sesuai dengan gaya mereka, namun tetap mendengarkan pendapat anak. Untuk mendisiplinkan buah hati, orang tua tipe ini lebih menekankan pada kebiasaan baik seperti memberikan hadiah dan pujian.
    Pola asuh ini membuat anak merasa dihargai dan diberikan hak untuk mengambil keputusan sendiri. Anak dengan parenting ini lebih bisa menunjukan perasaanya dan lebih bisa memberikan pendapat sendiri. Baumrind menuliskan, gaya pengasuhan ini dapat mencetak pribadi yang bahagia serta gigih mencapai sukses di masa depan.
  3. Permissive parenting 
    Permissive parenting ialah membebaskan anak melakukan apapun.  Orangtua tipe ini menganggap anak akan selalu menjadi anak-anak, atau kita biasa mendengar, “namanya juga anak-anak”. Mereka seakan membiarkan anak tanpa memberikan batasan. Jika terjadi hal yang serius, barulah orang tua mengambil tindakan.
    Parenting ini membuat orang tua tidak menekankan kedisiplinan yang ketat pada anak. Dengan itu, orang tua berharap mereka bisa dekat dengan anak layaknya teman. Namun, tidak jarang orang tua seakan membiarkan anak memilih tanpa memberikan arahan yang baik. Oleh karena itu anak juga sering melakukan tindakan sesuka hatinya.
    Pola asuh ini kerap mencetak pribadi yang tak mandiri. Mereka cenderung mengalami masalah yang berkaitan dengan kekuasaan dan berkinerja buruk di lingkungan sosialnya.
  1. Neglectful parenting
    Parenting dengan tipe ini artinya orang tidak mau tahu dengan urusan anak-anaknya. Tidak jarang mereka tidak mengetahui perkembangan dan masalah yang dihadapi buah hati.  Anak dengan orang tua tipe ini sering tidak mendapatkan perhatian dan arahan dari orang tua.
    Dampak dari tipe parenting ini bisa membuat buah hati tidak bahagia. Mereka juga mengalami kendala dalam akademik dan memiliki masalah perilaku. Pola asuh ini juga dapat membuat anak menyakiti dirinya sendiri, karena mereka merasa tidak ada yang perduli. Buah hati juga akan kekurangan rasa percaya diri untuk menghadapi lingkungannya.

Melansir dari CNN, dengan pola asuh seperti ini, anak cenderung tak memiliki kontrol diri di kemudian hari. Pola asuh ini juga mencetak pribadi dengan harga diri dan kompetensi yang rendah

Sebagai orang tua, tentu mengharapkan yang terbaik untuk anak nya. Apalagi di zaman globalisasi ini, banyak anak-anak  yang salah pergaulan karena kurangnya  pendidikan karakter dan parenting yang keliru dari para orang tua. Pola asuh yang tidak baik tentu akan membentuk pribadi yang tidak baik dan sebaliknya pola asuh yang baik akan membentuk pribadi yang baik.