
Di tengah budaya modern yang mengagungkan kesibukan dan pencapaian, produktivitas sering kali dianggap sebagai ukuran utama keberhasilan seseorang. Ungkapan seperti “kalau tidak sibuk, berarti tidak berkembang” menjadi semacam moto hidup, terutama di kalangan generasi muda. Namun, di balik semangat untuk terus berkarya, muncul fenomena yang justru bisa berdampak negatif terhadap kesehatan mental: toxic productivity.
Toxic productivity merupakan istilah untuk menggambarkan kondisi seseorang yang menuntut pada dirinya sendiri untuk terus selalu melakukan kegiatan produktif (do, be, and get more) tanpa memperhatikan diri dan sekitarya untuk mencapai tujuan (Diandra Adjiwibowo et al., 2023), yang didorong oleh ketakutan dan kecemasan akan ketertinggalan pencapaian dengan orang lain, selain itu toxic productivity yang tengah dialami juga menjadi penyebab terjadinya burnout syndrom.
Toxic productivity dapat muncul karena pengaruh media sosial, di mana remaja usia produktif terpapar berbagai konten tentang pencapaian yang dibagikan oleh orang lain. Selain itu, lingkungan akademik juga berperan sebagai pemicu, karena mendorong munculnya dorongan untuk menyamai atau melebihi keberhasilan orang lain akibat rasa takut akan ketertinggalan atau FOMO (Fear Of Missing Out). Faktor lain yang menyebabkan munculnya toxic productivity adalah pandangan dalam kehidupan sehari-hari yang menilai tinggi produktivitas, seakan-akan seseorang dianggap semakin berguna jika memiliki banyak hal yang dikerjakan (CIMSA, 2020).
Dampak dari Toxic Productivity terhadap Kesehatan Mental dan Kehidupan
- Burnout (Kelelahan Mental dan Emosional)
Toxic productivity sering kali menjadi pemicu burnout, yaitu kondisi kelelahan ekstrem akibat tekanan kerja yang terus-menerus tanpa jeda. Burnout bukan sekadar rasa lelah biasa, tetapi ditandai dengan perasaan hampa, kehilangan motivasi, penurunan performa, dan kecenderungan menarik diri dari aktivitas sosial. Menurut WHO, burnout kini diakui sebagai fenomena yang berkaitan langsung dengan pekerjaan, menandakan bahwa dampaknya serius dan perlu ditangani secara sadar dan sistematis.
- Kecemasan dan Stres Kronis
Tuntutan untuk terus produktif bisa memicu kecemasan karena individu merasa tidak pernah cukup. Pola pikir ini melahirkan stres yang berulang dan kronis, bahkan di waktu senggang.
- Gangguan Tidur
Orang yang terobsesi untuk selalu produktif sering kali membawa pekerjaan hingga ke ranjang, sulit mematikan pikirannya di malam hari, dan terus memikirkan hal-hal yang harus dikerjakan. Akibatnya, kualitas tidur menurun drastis, yang pada gilirannya memperburuk kondisi kesehatan mental dan membuat tubuh tidak pernah benar-benar pulih.
- Penurunan Kesehatan Fisik
Stres yang berlangsung terus-menerus menurunkan sistem kekebalan tubuh, membuat seseorang lebih rentan mengalami sakit kepala, gangguan pencernaan, hingga nyeri otot. Selain itu, gaya hidup menjadi tidak sehat, makan terburu-buru, jarang berolahraga, dan kurang tidur, yang semuanya semakin memperburuk kondisi tubuh secara keseluruhan.
- Rasa Bersalah Saat Istirahat
Individu dengan toxic productivity kerap merasa bersalah saat beristirahat. Pikiran seperti, “Aku malas kalau tidak melakukan apa-apa” atau “Aku belum pantas bersantai, masih banyak yang harus dikerjakan” sering muncul. Perasaan ini mencerminkan adanya gangguan pada konsep diri, di mana nilai diri terlalu bergantung pada pencapaian, sehingga membuat seseorang sulit menikmati waktu luang tanpa beban.
Cara Mengatasi Toxic Productivity: Kembali Menjadi Produktif yang Sehat
- Ubah Pola Pikir: Produktif ≠ Sibuk
Produktif bukan berarti harus selalu sibuk. Gantilah keyakinan “aku harus selalu produktif” menjadi “istirahat juga bagian dari produktivitas.” Salah satu cara efektif untuk mengubah pola pikir ini adalah dengan menggunakan teknik Cognitive Behavioral Therapy (CBT) untuk mengenali dan menantang pikiran seperti “kalau aku tidak sibuk, aku gagal.” Dengan begitu, kita bisa lebih seimbang dan tetap produktif tanpa mengorbankan kesehatan mental.
- Tentukan Batas Waktu dan Prioritas
Agar tetap produktif tanpa kewalahan, penting untuk menetapkan batas waktu dan prioritas dengan bijak. Terapkan manajemen waktu yang sehat, seperti teknik Pomodoro, kerja fokus selama 25 menit, lalu istirahat 5 menit. Buat to-do list yang realistis, bukan yang terlalu ambisius. Ingat, tidak semua hal penting harus diselesaikan hari ini. Fokus pada yang benar-benar prioritas, dan beri ruang untuk bernapas.
- Praktikkan Self-Compassion
Memberikan empati bukan hanya kepada orang lain, tapi juga kepada diri sendiri. Saat merasa tidak produktif atau mengalami kegagalan, berhentilah menyalahkan diri. Kita sering kali terlalu keras pada diri sendiri, padahal jika ini terjadi pada teman kita, mungkin kita justru akan menghibur dan mendukungnya. Jadi, cobalah tanyakan pada diri sendiri: “Kalau ini terjadi pada teman saya, apa yang akan saya katakan?” Gunakan jawaban itu sebagai cara untuk memperlakukan diri sendiri dengan lebih lembut, manusiawi, dan penuh kasih.
- Jadwalkan Waktu Istirahat Secara Aktif
bukan hanya mencuri-curi waktu saat sudah kelelahan. Istirahat seharusnya menjadi bagian dari rutinitas, bukan hadiah setelah kehabisan tenaga. Luangkan waktu untuk “deep rest” seperti journaling, meditasi, atau berjalan santai tanpa ponsel. Dengan begitu, tubuh dan pikiran benar-benar bisa pulih dan siap menghadapi aktivitas berikutnya.
- Kurangi Paparan Hustle Culture di Media Sosial
Jika ada akun-akun yang membuatmu merasa “tidak cukup berusaha”atau terus membandingkan diri, jangan ragu untuk unfollow atau mute. Alih-alih, isi feed-mu dengan konten yang mendukung slow living, keseimbangan hidup, dan kesehatan mental. Media sosial seharusnya jadi ruang yang membangun, bukan yang melelahkan.
- Latih Mindfulness dan Bangun Relasi yang Sehat
Latihan mindfulness membantu kita hadir sepenuhnya dalam setiap aktivitas tanpa terus-menerus terobsesi pada hasil. Dengan meluangkan waktu 5–10 menit setiap hari untuk meditasi sederhana, kita bisa meredakan tekanan internal dan memberi ruang bagi ketenangan. Selain itu, penting untuk membangun relasi yang sehat dengan membicarakan batasan dan kebutuhan istirahat kepada rekan kerja atau atasan. Bergabunglah dengan komunitas yang mendukung gaya hidup seimbang agar tidak terus terjebak dalam tekanan untuk selalu tampil produktif.
Istirahat bukanlah musuh dari produktivitas, melainkan elemen penting yang menyokongnya, seperti bahan bakar yang membuat mesin bisa terus berjalan dengan baik. Mengatasi toxic productivity bukan berarti menyerah atau menjadi malas, melainkan proses pembelajaran untuk mengenal batas diri, merawat kesehatan mental dan fisik, serta menciptakan ritme hidup yang lebih seimbang dan berkelanjutan. Hidup yang bermakna tidak diukur dari seberapa banyak hal yang berhasil kita capai atau seberapa sibuk kita setiap hari, tetapi dari bagaimana kita menjalani setiap momen dengan kesadaran, kehadiran, dan penghargaan terhadap diri sendiri serta orang-orang di sekitar. Dengan begitu, produktivitas tidak lagi menjadi beban, melainkan bagian dari kehidupan yang utuh dan penuh makna.
Referensi
- Aprianti, K., & Purnama, I. Menelisik Dampak Fenomena Toxic Produktivity Era Society 5.0 pada Academic performance di Kalangan Pelajar Perempuan. Jurnal Pendidikan Manajemen Perkantoran, 10(1), 1-14.
- Tsabita, A., Febriyanti, F., Komariah, S., & Wahyuni, S. (2023). Tren toxic productivity sebagai gejala terjadinya burnout syndrome terhadap prestasi akademik pada remaja rentang usia 18-23 tahun di kota bandung. SOSMANIORA: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 2(4), 495-501.
Nama Penulis: Irena Julianti (102411007)
Program Studi Psikologi, Fakultas Bisnis dan Ilmu Sosial Universitas Binawan.
Dosen Pengampu : Apriani Riyanti, M.Pd., Anwar Razak, S.ip, MPP.